Old posts

Berhati-hatilah sebelum anda Celaka !

Posted by admin on May 18, 2009 | No comments

Jakarta Defensive Driving Consulting sekali lagi menggelar pelatihan sesi teori dan praktek untuk 23 pegawai (sales) PT. Unilever. Kali ini mengambil tanggal 16-17 Mei 2009 bertempat masing-masing di kantor JDDC untuk kelas teori serta di lahan parkir kosong Makro Ciputat untuk kelas praktek. Berlaku sebagai pic training Ride Like a Master yaitu sdr Dharma yang sudah ber kompeten di bidang pelatihan berkendara bersama Jakarta Defensive Driving Consulting. Selaku trainer pada sesi closed track juga hadir Boy Pulubuhu dan Aldi serta di sesi Commentary Riding bertugas Sdr Ipung, Andry serta Oci.

Photobucket

Pada sesi praktek termasuk sesi Commentary Riding banyak sekali hal-hal yang terungkap dari sejarah berkendara para peserta. Roby Saiful, salah satu peserta pelatihan adalah salah satu korban ramainya kecelakaan jalan raya. Bersinggungan dengan mobil hingga membuat jari kelingking kakinya nyaris putus. Tanpa mengenakan sepatu dan hanya menggunakan sandal jepit adalah kekeliruan besarnya. Beruntung pihak dari pengendara mobil mau sedikit bertanggung jawab dengan memberi nya dana pengobatan. Dua belas jahitan cukup menjadi kenang-kenangan. Karena situasi inilah membuat pak Roby kini lebih berhati-hati dan mau melengkapi diri dengan standar keselamatan aman berkendara.

PhotobucketPhotobucket

Cerita berbeda menjadi milik Istami Sugiantono. Saat muda menjadi aktor balap liar dan sering bersahabat mesra dengan aspal. Tak heran kekasihnya saat itu yang kini telah menjadi istrinya sama-sama menjadi teman saat jatuh ke aspal. Aksi bebas ala ‘freestyle’ pun tak lepas dari permainannya. Karena memang tidak dalam lingkup profesional maka tak heran luka-luka memar sering menghampiri bapak yang kini telah memiliki anak ini. Sifat berhati-hati kini justru jadi kebiasaan berkendaranya. Menunggangi matic model Mio serta RX King yang terkenal gahar kini pak Istaman sudah lebih sadar diri bahwa kecelakaan adalah hal yang tidak mengenakkan.

PhotobucketPhotobucket

Secara sederhana bisa disimpulkan bahwa kita baru akan mengambil sikap hati-hati jika sudah mengalami sebuah peristiwa tidak mengenakan di jalan. Apa tindakan kita sekarang ? Hendak menunggu untuk diberi cobaan celaka di jalan atau mengambil sikap defensif saat berkendara. Menjadi defensif kita akan menjadi pengendara yang mau mengambil langkah antisipatif dari kemungkinan celaka.

Tags:

Mengemudi dengan Transmisi Otomatis

Posted by admin on May 15, 2009 | No comments

Era mengemudi kendaraan automatic di Indonesia khususnya di kota-kota besar mulai menjadi trend mulai awal 90’an sedangkan di kota-kota kecil banyak orang menganggap memiliki kendaraan automatic bukanlah menjadi pilihan utama dengan berbagai alasan, al: Kalau mogok gak bisa didorong, kalau rusak biaya nya tinggi dll.

Tujuan dibuatnya transmisi automatic adalah untuk kenyamanan khususnya pada medan-medan city driving yg umumnya stop n go yang kadangkala cukup melelahkan bagi pengemudi, dengan adanya transmisi ini sipengemudi tidak perlu repot-repot harus nginjak kopling dan memindah gigi setiap kali putaran mesin turun atau naik. Kendaraan ber-transmisi automatic dipopuler kan pada tahun 1940 oleh Oldmobile (Amerika) , pada dekade 50’an para produsen mobil di Amerika nyaris semua nya mengeluarkan produk ber-transmisi automatic.

Photobucket

Mobil-mobil bertransmisi automatic memiliki beberapa initial pada stick gearnya: P - R – N – D ada lagi dengan inisial : P – R – N – D4 –D3- +- dan M- (pada transmisi Triptonic) :

  • P- atau “Parkir” pada posisi ini secara mekanikal akan mengunci gigi, membuat posisi gigi tidak dapat dipindahkan. Posisi ini digunakan pada saat ketika kendaraan akan berhenti untuk parkir atau dimatikan. Disarankan untuk keamanan dan menjaga umur komponen transmisi agar menggunakan Parking Brake saat posisi P dipilih dan baru bisa digunakan saat kendaraan dalam keadaan completed stop. Ketika stick gear akan dipindahkan pada beberapa kendaraan yang menggunakan pin pengunci, si pengemudi harus menekan kebawah terlebih dahulu stick nya baru stick gear bisa dipindahkan, bahkan ada juga kendaraan yang menuntut si pengemudi menginjak pedal rem dulu baru stick gear tersebut bisa pindah,
  • R – atau “Reverse/Mundur” ini sama halnya dengan gigi mundur. Untuk menggunakannya, pastikan kendaraan dalam keadaan completed stop jangan sampai roda-roda masih bergerak, jika ini diabaikan maka potensi kerusakan adalah konsekwensinya. Untuk keamanan memindahkan ke gigi ini si pengemudi harus melepaskan penguncinya, dengan cara menggerakan kesamping atau menekan stick kebawah,
  • N – atau “Neutral/Freewheel” pada posisi ini hubungan tenaga dari mesin tidak terteruskan ke transmisi sehingga walaupun putaran mesin dinaikan kendaraan tetap tidak akan bergerak. Untuk memperpanjang umur komponen transmisi posisi ini digunakan ketika pengemudi sedang tidak bergerak atau ‘idle’ di traffic light, untuk keamanan saat stick diposisikan pada N hand brake harus digunakan,
  • D – atau “Drive/Maju” membuat kendaraan bergerak maju sampai gigi 3 atau 4 atau gigi 5-6 (pada mobil VW/Audi Direct Shift Gear box) atau sampai gigi 7 (pada mobil Mercedes 7G gearbox) bahkan dimobil Lexus terbaru sampai dengan gigi 8,
  • D2 dan D1 – mempunyai fungsi bahwa transmisi jika dipilih oleh si pengemudi maka perpindahan gigi secara otomatis hanya sampai pada gigi 2 atau 1 saja. Pemilihan gigi ini biasnya digunakan bergantung kebutuhan seperti jalan yg dilintasi buruk/licin sehingga memerlukan pergerakan perlahan (crawling seakan merangkak kepiting) atau ketika kendaraan harus bergerak dari “0“ speed dipermukaan lintasan menanjak yg curam dengan beban berat (full loaded),
  • E & S “Eco Driving dan Sport“ kadang kala pada kendaraan bertransmisi automatic ada sebuah tombol bertanda tersebut. Sesuai namanya pada kondisi normal sistim transmisi ini akan berada pada posisi E perpindahan kickdown akan terjadi pada putaran ekonomis (terasa pendek-pendek) sedangkan S, jika si pengemudi ingin memperpanjang kickdownnya pada putaran mesin maksimal sehingga perpindahan gigi terjadi pada saat rpm cenderung tinggi dari kondisi normalnya.

Photobucket

Pada mobil-mobil bertransmisi model Triptonic ada initial + - atau M, model transmisi automatic ini membuat pengemudi bisa memindah-mindahkan tuas gear nya sesuai kebutuhan seperti pada transmisi manual. Ada sebagian orang canggung dengan penggunaan transmisi automatic khususnya saat situasi emergency, biasanya pada saat ini untuk memperpendek jarak stopping distance mereka memerlukan down shift untuk mendapat engine brake maksimal pada mobil manual. Sebenarnya hal ini dapat – dapat saja dilakukan pada mobil bertransmisi automatic, caranya :

  • Rem dalam – dalam dan tahan (jika ABS),
  • Pastikan Putaran mesin sudah turun selanjutnya,
  • Pindahkan stick ke D2 dan lepas pedal rem supaya mendapat efek engine brake, jika putaran mesin terlalu tinggi (over rev),
  • Injak pedal rem dalam –  dalam dan tahan.

Dengan cara diatas sipengemudi akan mudah mendapatkan engine brake yang diperlukan sebagaimana pada mobil bertransmisi manual. Agar menjadi perhatian ketika situasi ini terjadi pada saat sipengemudi memindahkan gigi ke D2 dan terindetifikasi bahwa drive wheel terkunci (roda terkunci/blocked atau terdengar derit ban), segera pindahkan gigi ke posisi D (ke gigi normal).

Ada kebiasaan yang harus dilakukan pengendara mobil matic yaitu selalu menempatkan kaki kiri secara bebas (FREE) sementara kaki kanan bermain di antara pedal gas dan rem. Mengemudikan mobil matic untuk mengontrol pedal rem dan pedal accelerator cukup menggunakan kaki kanan saja, sehingga saat ingin mengerem secara otomatis sudah terjadi ’engine brake’ ketika kaki berpidah ke pedal rem. Kesalahan yang kadang terjadi adalah saat pengemudi menggunakan kaki kiri untuk mengontrol pedal rem sehingga sering terjadi pengereman yang tidak efektif.

Photobucket

Sumber Gambar 01

Sumber Gambar 02

Sumber Gambar 03

Tags:

Aquaplaning

Posted by admin on May 12, 2009 | No comments

Gejala aquaplaning :
Ada 2 tanda-tanda anda sedang mengalami aquaplaning; bagian belakang kendaraan bergoyang kekiri atau kekanan dan kedua roda kemudi tiba-tiba terasa enteng yang kemudian dikuti bagian muka kendaraan mengarah arah lain.

Photobucket

Aquaplaning :
Istilah itu umumnya digunakan di negara Eropa dan Asia sedangkan Amerika sering disebut juga sebagai Hydroplaning, pada kendaraan bermotor adalah fenomena dimana roda-roda kendaraan melayang diatas permukaan lapisan air. Sebagaimana kalau kita melempar batu tipis dengan keras diatas permukaan air batu tsb akan melayang menyentuh permukaan air beberapa saat sebelum tenggelam dan peristiwa tsb disebut Aquaplaning. Jika ini  terjadi pada kendaraan yang sedang anda kemudikan maka akan membuat pengemudi kehilangan arah kendaraan, kecelakaan akan menimpa anda!

Faktor Penyebab :

  • Type Alur ban dan ketebalan ban/ tire tread depth - sejalan berkurangnya ketebalan ban dan alur nya maka kemampuan ban untuk resist/menyikapi aquaplaning menjadi berkurang. Pengemudi harus memilih ban yang mempunyai alur yg cukup jika mengemudi pada negara yang mempunyai musim hujan yang panjang. Alur yang rapat pada permukaan ban akan membuat terhambatnya pemecahan air, traksi permukaan ban akan segera hilang ketika kendaraan melintasi permukaan air,
  • Ukuran & Bentuk ban – ukuran dan bentuk ban akan mempengaruhi exposure dari aquaplaning. Semakin lebar permukaan ban dengan grip/alur yang rapat akan membuat semakin cepat terjadinya aquaplaning,
  • Tekanan angin – ikuti  petunjuk dari produsen ban terhadap ban yang anda gunakan, jangan meneba-nebak. Jelas nya nagin yang berlebih membuat traksi roda akan berkurang,
  • Ketinggian permukaan air - Semakin tinggi permukaan air maka semakin mempercepat berkurangnya traksi roda walaupun pada kecepatan pelan. Ketinggian air yang tipis pada kecepatan diatas 60Km/jam membuat kendaraan mengalamin aquplaning,
  • Permukaan jalan – Aspal akan mudah membuat aquaplaning dibandingkan dengan permukaan beton seperti di jalan toll,
  • Bobot kendaraan – semakin ringan kendaraan akan semakin mudah terjadinya aquaplaning.

Photobucket

Efek negatif yang akan terjadi :

  • Arah kendaraan tidak akan sesuai dengan keinginan pengemudi, pengemudi akan hilang control terhadap kendaraanya, understeer / lintasan kendaraan akan melebar bahkan terbalik adalah salah satu konsekwensinya,
  • Stopping distance pada saat pengereman akan semakin panjang. Kemampuan rem akan berkurang, walaupun kendaraan dilengkapi ABS dan EBD dibandingkan didalam kondisi ideal.

Bagaimana menyikapi ketika mengalami Aquaplaning :

  • Jangan panik,
  • Jangan mengerem seketika – angkat pedal gas. Mengeremlah ketika memang kendaraan sudah dalam kendali,
  • Jangan melakukan gerakan counter steer seketika – ketika ternyata arah kendaraan betul-betul sudah mengarah kearah lain maka anda dapat melakukan gerakan counter steer, diawali kearah mana muka kendaraan mengarah dan kembali kearah lintasan, lakukan berulang kali sampai kendaraan terkontrol kembali.

Photobucket

Mengemudi pada Musim Hujan?

Jika mengemudi pada musim hujan, pengemudi harus menyadari ada beberapa hal negative yang dapat dialaminya, al.;

  • Jarak pengereman semakin panjang,
  • Visibility berkurang,
  • Traksi roda berkurang dan ini akan mempengaruhi kualitas control pengemudi semisal ; pada saat pengereman dan menikung,
  • Aquaplaning.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah Aquaplaning?

  • Cek kondisi ban dan tekanan angin nya,
  • Mengemudilah dengan mata memandang jauh kedepan, pada metoda Crash Free Driving yang diselenggarakan oleh JDDC disebut “Pandangan Aman” 30 – 120 detik kedepan. Untuk memonitor sejak awal terhadap permukaan jalan, dengan demikian seorang pengemudi yg menyadari adanya genangan air akan segera mempunyai waktu melakukan perlambatan secara bertahap,
  • Mengemudilah  dengan kecepatan moderate (Sedang) pada lintasan basah,
  • Tidak melakukan pengereman tajam ketika pengemudi sedang melintasan lapisan air. Lakukan perlambatan lebih awal dibandingkan ketika mengemudi pada kondisi kering.

SUMBER GAMBAR :
http://www.ctyres.co.uk/
http://photos.autoexpress.co.uk/images/
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydroplaning_(tires)

Tags:

Seminar ala Fonterra

Posted by admin on May 11, 2009 | No comments

Fonterra. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan susu dan bahan bakunya pada 2 Mei lalu coba mengangkat isu keselamatan berkendara pada pegawainya. Dalam konsep seminar yang dihadiri tak kurang dari 20 peserta ini Fonterra mengambil tema “Road Safety Awareness”. Seperti diketahui saat ini kepedulian akan keselamatan berkendara terbilang masih minim, sementara fakta negatif seperti kecelakaan di jalan raya terus meningkat.
Photobucket
Photobucket
Seperti diutarakan Yustianto selaku HRCA, seminar yang berjalan setengah hari ini mengedepankan tujuan agar pada saat berkendara pegawai Fonterra lebih sadar akan bahaya dan bagaimana cara-cara singkat antisipasinya. Catatan kecelakaan memang tidak dapat dihindari oleh para pemakai kendaraan. Dengan pembicara seminar sdr. Mulyanto selaku trainer Jakarta Defensive Driving Consulting, beberapa pilihan coba diberikan pihak pembicara, salah satunya adalah tetap ber perilaku DEFENSIF. Dimana pengendara diharapkan mampu membaca potensi bahaya dan bagaimana menyikapinya.

Tags:

Menghitung Jarak Aman Berkendara

Posted by admin on May 6, 2009 | 4 comments

Photobucket

Apa sih JARAK AMAN itu ? Apa perlunya jaga jarak aman di tengah padatnya lalu lintas ibukota ? Di luar kondisi yang padat tentunya menjaga jarak aman antar kendaraan adalah hal penting. Tanpa jarak aman kita sebagai pengendara bisa saja terlibat dalam sebuah kecelakaan. Dalam setiap sesi teori dari program RIDE LIKE A MASTER dan CRASH FREE DRIVING JDDC tips dan trik penghitungan jaga jarak aman ini selalu di utarakan pada setiap peserta agar pada kegiatannya di jalan raya nanti pengendara bisa menjadi pengendara yang defensif dan jauh dari resiko bahaya.

Kenapa penting, tanpa jaga jarak akan terjadi :

  • Tidak ada ruang untuk ber manuver,
  • Tidak ada ruang untuk kendaraan me respon situasi di depan.

Hitunglah dua detik secara umum antara reaksi manusia dan reaksi mekanikal. Tubuh akan spontan melakukan respon jika sudah membaca bahaya. Penafsirannya pun tergantung kebiasaan pengendara. Ada yang spontan bersikap defensif karena terbiasa melakukan antisipasi sejak jauh. Ada yang secara spontan terbawa reflek tak sadar yang justru mungkin membawanya ke situasi kecelakaan.

2 sec rule 02

Di tengah padatnya ruang antar kendaraan tentunya kita masih dapat membuat jarak aman, bahkan pada kemacetan sekalipun. Frase JAGA JARAK AMAN 2 DETIK tentunya pernah kita dengar. Lalu bagaimana kita tahu jarak 2 detik itu di implemetasikan di jalan ? Berikut tips sederhana menghitung jarak 2 detik di jalan raya :

  • Samakan kecepatan kendaraan kita dengan kendaraan di depan. Kecepatan yang sama di ketahui melalui tidak berubahnya jarak kita dengan kendaraan di depan,
  • Ambil salah satu benda statis di pinggir jalan sebagai patokan menghitung, misal : pohon, tiang listrik atau rambu-rambu jalan,
  • Begitu badan kendaraan di depan melewati benda statis patokan tadi lalu mulailah menghitung : SATU DAN SATU, SATU DAN DUA, kata-kata tersebut sebagai pengganti hitungan detik demi detik,
  • Hitung terus hingga badan kendaraan kita melewati benda statis patokan tadi, jika yang terhitung lebih dari DUA maka hitungan jarak aman terbilang cukup. Cukup waktu untuk merespon bahaya. Cukup waktu untuk melakukan manuver.
  • Ingat, pengereman tidak bersifat langsung dan membuat kendaraan berhenti. Rem memerlukan waktu untuk benar-benar berhenti.

Menghitung jarak aman ini bisa dilakukan di mana saja, dan dapat diaplikasi kan kapan saja. Setiap kita bergerak waspadai setiap jengkal jarak kita dengan kendaraan lain di depan. Pada situasi padat di kemacetan hindari ban depan terlalu menempel mendekat kendaraan di depan. Biarkan mata dapat melihat jelas ban belakang secara utuh agar jika terjadi sesuatu maka kita masih sempat melakukan pergantian jalur atau ber manuver.

2 sec rule 01

Mudah bukan ?

Sumber Gambar : www.Google.com = 2 Second Rule

Tags:

Powered by Wordpress and Stripes Theme Entries (RSS) | Comments (RSS)