OTOMOTIFNET - Bayangkan duduk di sebuah kursi model bucket seat yang dibalut dengan bahan enak dikulit. Ukuran seat yang pas dengan tubuh, suhu air conditioning yang sejuk, ditemani alunan suara dari sound system berkualitas wahid. Dengan power-nya, mobil meliuk-liuk di keramaian, ditambah sebatang kretek terselip di salah satu jari tangan. Wah…, nikmatnya!
Setelah melewati tol Cipularang tepatnya di lintasan Cikampek-Jakarta, puntung rokok kretek favorit saya jatuh dan menempel di celana. Seketika secara spontan mata dan kepala bergerak ke bawah, sementara paha bergerak membuka melebar. Tangan kiri yang sedang memegang kemudi (tangan kanan dengan rokoknya segera memegang kemudi) mencoba menghapus puntung yang menempel di paha. Menepuk-nepuk paha, ternyata berhasil, rasa panas pun hilang seketika.
Proses ini saya yakin hanya terjadi dalam beberapa detik (tidak lebih dari 2 detik). Mobil sudah berada di jalur tengah (dirumput) sedang mengarah ke lintasan lawan. Tanpa sadar dan secara spontan tangan kiri menarik kembali roda kemudi, berharap arah mobil dapat dikontrol. Gerakan tadi membuat roda-roda kehilangan traksi dan seketika mobil mengalami oversteer, berputar di tempat di permukaan rumput. Alhamdulillah…, kebetulan saya selamat!”
Itu tadi pengalaman Jusri Pulubuhu, seorang pakar safety driving. Perjalanan dari Bandung yang awalnya terasa nikmat, nyaris berakhir buruk gara-gara sebutir bara rokok. Masih yakin rokok bikin mengemudi dan perjalanan makin nikmat?
EFEK NIKOTIN
Sebuah studi oleh Human Psychopharmacology Research Unit, Universitas Surrey, Inggris, menemukan bahwa rokok ternyata membuat kemampuan mengemudi jadi lebih baik. Dalam uji coba dengan simulasi mengemudi nikotin terbukti membuat kemampuan psikomotorik jadi lebih baik. Kemampuan pengereman jadi lebih baik, sementara akurasi mengemudi meningkat setelah mengkonsumsi 2 batang rokok.
Menurut Encyclopedia of Drugs and Addictive Substances, nikotin merupakan komponen adiktif yang membuat rokok terasa nikmat. Nikotin membantu menyebarkan rangsangan saraf-saraf dan pelepasan adrenalin. Pada dasarnya nikotin menimbulkan 2 sensasi, merangsang saraf dan mental saat pengguna dalam situasi sulit dan rileks di situasi normal.
Itulah kenapa dalam penelitian tersebut kemampuan mengemudi jadi membaik setelah merokok. Nikotin dalam rokok meningkatkan daya ingat dan perasaan nyaman. Tapi, efek itu cuma sesaat. Sensasi nikmat dan merangsang syaraf tersebut akan segera hilang begitu persentasenya dalam tubuh menurun.
Tapi di mobil, efek rokok enggak cuma dari nikotinnya saja. Tapi juga asap dan debu-debu dari abu rokok. Walaupun dibuang di asbak pada dasbor, partikel debu rokok bisa beterbangan dan menempel di jok, doortrim, plafon dan bagian lain. Selain bau, debu-debu abu rokok yang menempel di jok dan bagian lain, potensial jadi problem pernapasan.
Penelitian Massachusettss General Hospital, Boston membuktikan bahwa partikel toksik rokok, bisa tetap menempel di permukaan sekitarnya dalam waktu yang lama setelah merokok. Termasuk jok, plafon atau doortrim, jadi enggak beda sama asbak. Padahal, menurut data National Toxicology Program AS, tembakau mengandung 250 gas beracun, termasuk butane yang terdapat dalam bahan bakar korek, toluene (seperti yang di thinner cat), chromium (yang dipakai untuk membuat baja), cadmium (bahan pembuat baterai), sampai hydrogen cyanide (dipakai sebagai senjata kimia).
DISTRAKSI
Inilah penyumbang kecelakaan terbesar. Sama seperti makan, mencari channel radio, mengganti CD musik atau menelpon, merokok merupakan aktivitas yang tergolong sebagai distraksi (pemecah konsentrasi) saat mengemudi. Distraksi menyebabkan pengemudi lambat memproses informasi, termasuk dari jalan. Distraksi juga menurunkan konsentrasi dan memperlambat respon.
Banyak kecelakaan terjadi karena orang menikmati rokok selagi mengemudi. Menurut data National Highway Traffic Safety Administration, seperempat kecelakaan di AS terjadi karena pengemudi kehilangan konsentrasi. “Jalan raya adalah killing field, maka pengemudi wajib fokus terhadap tugas-tugas mengemudinya. Melakukan aktivitas fisik yang tidak terkait sangat tidak dianjurkan. Merokok sambil mengemudi memerlukan gerakan-gerakan fisik yang berulang-ulang, ini akan menambah kesibukan pengemudi saat gerakan lain dibutuhkan,” papar Jusri.
Penelitian di Jerman menunjukkan, saat mobil bergerak 50km/jam, mobil akan bergerak sejauh 14 meter dalam 1 detik saat pengemudi berusaha meraih rokoknya yang jatuh. Padahal, untuk mengambil rokok atau membersihkan bara yang membakar stoking, biasanya perlu lebih dari 2 detik. Selama itu, konsentrasi biasanya teralihkan dari jalan ke rokok atau kaki. Enggak heran, kalau muncul penelitian di Spanyol yang menunjukkan perokok dua kali lebih besar peluangnya untuk terlibat kecelakaan serius daripada bukan perokok.
Di Inggris, Skotlandia, Jerman dan Brasil, merokok di dalam mobil merupakan tindakan terlarang. “Di Inggris sejak 1 Juli 2009 kemarin, malah telah diberlakukan undang-undang pelarangan merokok sambil mengemudi. Pelanggarannya, berisiko denda sampai sampai £ 2,500, Rp 35 juta. Bahkan di USA pihak Cadilac merecanakan untuk menghilangkan asbak pada mobil-mobil produksi mereka,” jelas konsultan safety driving di Jakarta Defensive Driving Consulting tersebut.
Efek api atau puntung rokok yang lepas dari batang rokok berpotensi jatuh atau melekat ditubuh kita dan akan mengganggu konsentrasi pengemudi. Akibatnya, pengemudi hilang kendali arah kendaraan seperti dialami Jusri.
CERAS (Center of Safety Riding Study) didukung AISI (Honda, Yamaha, Suzuki) serta Jasa Raharja dan Telkom menyelenggarakan Diskusi Panel bertema Mudik Lebaran 2009 (16/9) : Peranan ATPM, Menghadapi Ledakan Pemudik Sepeda Motor. Bertempat di Hotel Sofyan Tebet diskusi berjalan efektif dan ramai opini yang berhubungan dengan segala hal mengenai ‘road safety’ dan mudik.
Sebagai narasumber diskusi hadir bapak Gunadi Sindhuwinata selaku ketua umum AISI, bapak Ipung mewakili Kepolisian Polda Metro Jaya serta Edo Rusyanto dari CERAS. Pesertanya sendiri hadir dari berbagai kalangan mulai dari aktifis ‘road safety’, perwakilan klub/komunitas, media hingga perwakilan para ATPM dan divisi ‘Safety Riding’ nya serta tak ketinggalan konsultan ‘road safety’ JDDC.
Diskusi hadir menyikapi fenomena membludaknya jumlah pemudik yang menggunakan alat trtansportasi sepeda motor. Berdasar data puncak kebutuhannya terjadi di masa-masa hari Raya Lebaran seperti saat ini (Agustus - September).
Posisi Indonesia sendiri ada di peringkat ke 6 dalam industri sepeda motor. Diatasnya adalah Amerika Serikat, Eropa, Australia, China dan India. Pada tahun 2008 sendiri Indonesia mencatat produksi sepeda motor mencapai 6.280.799 unit. Angka yang fantastis.
Data-data di atas meyiratkan adanya permintaan terus menerus dari konsumen. Angka permintaan terus naik sementara luas ruang jalan tidak bertambah menjadi masalah tersendiri yang harus cepat diselesaikan. Sementara jalan raya sendiri sesungguhnya bergerak menjadi semacam ladang pembunuhan bagi para pengguna kendaraan bermotor. 8 dari 10 kecelakaan faktanya melibatkan sepeda motor.
Dalam lanjutan bahasan mengenai mudik pihak Kepolisian sendiri telah menghadirkan psikiater semata-mata untuk memberi pemahaman bagi para pemudik bahwa aktifitas perjalanan yang mereka lakukan adalah berbahaya. Konsultasi ini sendiri ditempatkandi check point dan ditujukan bagi mereka yang berkendara lebih dari dua orang. Para pengendara tersebut akan dihentikan di tiap check point yang disediakan Kepolisian.
Angka pemudik sendiri diperkirakan pada tahun 2009 akan mencapai 2.6 juta orang yang menggunakan transportasi sepeda motor. Sementara pada tahun 2008 angkanya telah mencapai 2.2 juta orang. Data kecelakaan nya sendiri pada tahun 2008 mencapai 633 kasus dan semoga akan itu tidak bergerak naik di tahun 2009.
Pada sesi tanya jawab banyak bermunculan pertanyaan, saran, ide hingga ajakan untuk terus menyuarakan semangat ‘road safety’ baik pada level klub/komunitas motor sampai masyarakat awam.
JDDC Crash Free Int’l melalui Jusri Pulubuhu juga mengkritisi perlu adanya koreksi metode pelatihan dimana kata-kata “Safety Riding” selalu diarahkan ke pemahaman peningkatan “Skill”. Skill tidak akan berpengaruh banyak jika tidak ada mental dan mindset keselamatan berkendara yang benar dan aman. Dan soal kesadaran berkendara aman itulah yang harus diperhatikan sehingga kalimat “motor adalah mesin pembunuh” bisa di hapus.
Lalu bagaimana sikap ATPM menghadapi fenomena arus mudik ini ? Tanggung jawab sosial mereka berikan melalui berbagai program mudik bareng ATPM. Kini masing-masing penyedia layanan mudik sudah mulai memberikan perhatian dengan memberikan larangan berkendara di atas dua orang. Jika penumpang berlebih maka sisanya akan diberikan tempat yang nyaman di bis-bis mudik yang telah di sediakan. Langkah maju mengantisipasi resiko kecelakaan serta memberikan pilihan lain dalam mengatur manajemen perjalanan.
Fakta kecelakaan yang dialami oleh banyak pegawai perusahaan lambat laun memaksa pihak-pihak yang berkepentingan dalam manajemen usaha untuk bekerja lebih keras ber kampanye soal ‘Road Safety”. Atas dasar kasus insiden salah satu pegawainya maka pada hari Selasa, 15 September 2009, PT Star Energy memberikan ‘Motorcycle Coaching Clinic’ selama kurang lebih 3 jam.
Kegiatan yang dihadiri tak kurang dari 35 peserta berjalan padat mulai dari sesi teori serta praktek, namun praktek kali ini hanya bersifat demo saja yang di demonstrasikan langsung oleh instruktur. Kegiatan ini merupakan implementasi konsep STAR LIGHT mereka yaitu L = Lifting, I = Isolation, G = Ground Disturbance, H = High serta T = Transportation. “Motorcycle Coaching Clinic” bagian dari konsep T tadi.
Sesi awal langsung dipandu oleh Founder dan Training Director JDDC Crash Free Int’l, Jusri Pulubuhu, sebelumnya juga telah mengambil pidato pembuka adalah Dr Soedarmadji selaku Supt. Occupational Health dan Prijo Hutomo selaku Sr Manager Corporate SHE. Dalam kesempatannya dua wakil dari PT Star Energy ini memaparkan catatan medis dan reka kejadian yang menimpa salah satu pegawainya. Kecelakaan ini terjadi di jalur Warung Buncit menuju Ragunan.
Terlihat pada catatan dimana telah terjadi kekeliruan antisipasi jalur jalan. Pengendara (korban) sepertinya gagal mengantisipasi tikungan yang lalu membentur separator busway. Naas, korban jatuh dan menderita beberapa luka berat pada paha.
Penyebab kecelakaan bisa berbagai macam, bisa saja akibat keletihan dan dipaksa berkendara, tidak hafal rute perjalanan hingga kemungkinan terjadinya sikap monoton dalam perjalanan yang kadang mengaburkan mata di dalam perjalanan itu sendiri.
Lepas sesi teori peserta di arahkan ke areal parkir atas gedung untuk menerima sedikit demo berkendara yang baik, mulai dari sisi postur tubuh, berboncengan hingga demo menoleh sekilas yang kerap diabaikan pengendara sepeda motor.
Singkatnya waktu membuat kegiatan ini belum terlaksana penuh karena peserta hanya diberikan pengetahuan dasarnya saja tanpa melakukan praktek langsung. Tapi paling tidak ini akan membuka mata mereka bahwa berkendara sepeda motor merupakan aktifitas yang berbahaya.
HEADREST. Apakah kita ‘ngeh’ dengan keberadaan fitur yang satu ini. Letaknya ada di setiap kursi pada mobil. ‘Rest’ pada kata Headrest bukan berarti istirahat seperti mengistirahatkan kepala, melainkan RESTRAINT atau kendali.
Seperti yang sering terlihat pada kendaraan roda empat banyak sekali cara-cara pemakaian headrest yang sesungguhnya jauh dari konsep ’safety’. Headrest dilepas atau bahkan di tambahkan bantal kecil yang konon bisa menahan leher dari efek pegal. Hal-hal seperti ini yang idealnya di koreksi semata-mata untuk tetap mengedepankan unsur keselamatan (safety) saat mengemudi.
Jika terjadi benturan dari arah belakang maka kepala akan bergerak maju-mundur, efek pantulan (rebound) nya akan melepas kepala ke arah belakang. Disinilah keberadaan headrest untuk menahan kepala tidak bergerak berlebihan ke arah belakang. Resiko leher patah jika tidak ada fitur headrest. Kepala bisa tetap tegak meskipun ada hantaman keras.
Jika menggunakannya benar maka kemungkinan cedera akibat benturan dapat berkurang, kesalahan menggunakan headrest dapat menyebabkan cedera pada tulang leher maupun cedera pada otak.
Pertanyaan mengenai pemakaian headrest menjadi salah satu dari sekian banyak pertanyaan peserta ‘Safety Talk’ PT Unilever di Graha Unilever Jakarta pada 11 September 2009, acara ini menghadirkan pembicara dari JDDC Crash Free Int’l, Jusri Pulubuhu.
Kembali mengenai headrest hendaknya mulai sekarang para pengemudi menyempatkan waktu untuk memperhatikan fungsi headrest ini. Posisikan headrest dengan benar sesuai gambar agar pengemudi maupun penumpang dapat memiliki proteksi yang baik.
Mengerikan ! Pada detik ini di belahan dunia lain ada saja anak-anak meregang nyawa mereka di jalan akibat kecelakaan di jalan umum. Mereka sedang berangkat ke sekolah. Mereka sedang bermain. 3000 orang tewas setiap harinya di jalan raya di seluruh dunia.
Apa peduli anda ? Tetap tak mau menaruh perhatian karena merasa bukan pekerjaan anda ? Apa peduli anda ? Tetap merasa tak perlu karena memang bukan tanggung jawabnya ?
Bukan masalah kita tak mampu. Tapi apakah kita mau. Butuh sebuah sikap supportif yang benar-benar aktif bahwa meregang nyawa di jalan sungguh sebuah fenomena mengerikan. Siapa lagi yang bisa merubah fakta ini jika bukan kita sendiri. Kita HARUS berbagi jalan. Berbagi kesempatan untuk hidup. Berbagi keyakinan bahwa semua fakta kecelakaan ini bisa dihapuskan.
Sebuah semangat menyokong penuh niat mempertahankan kehidupan coba diangkat oleh sebuah institusi independen bernama MAKEROADSSAFE ( www.makeroadssafe.org ).
Epidemi menakutkan. Saat serbuan virus penyakit terangkat derajatnya lebih tinggi. Justru angka kecelakaan dan mati sia-sia di jalan raya menjadi hal yang biasa. Seolah-olah kematian akibat penyakit terlihat lebih menakutkan. Masih ada mesin pembunuh berkeliaran di jalan raya. Egoisme manusia. Keengganan untuk peduli. Sikap acuh tak acuh. Meregang nyawa di jalan raya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Apa peduli anda ?
Masih merasa tak mau bertanggung jawab atas keselamatan orang-orang di sekitar kita saat berada di jalan raya ?
“So the MAKE ROADS SAFE campaign is a necessity, because we can stop these horrific injuries of death, and the world needs to act right now!”, ujar Michelle Yeoh pada video kampanye MAKE ROADS SAFE.
Sesungguhnya ini tanggung jawab kita semua. MAKE ROADS SAFE .. Untuk kita semua !
JDDC Crash Free Int’l is fully supporting this worldwide campaign.