“Wah … patokannya hilang!”

Posted by admin on November 3, 2009

“Wah … patokannya hilang!”, teriak pak Ono (dari PT. DHL) di sesi latihan Cornering pada Public Course for Motorcyclist yang digelar JDDC Crash Free Int’l pada 27-28 Oktober 2009. Mungkin kita langsung bertanya apanya yang menghilang. Pada sesi ‘cornering’ ini peserta diperlihatkan bagaimana menikung dengan sudut-sudut yang cukup sempit dengan menggunakan teknik Counter-Weight. Tikungan semacam ini kita temukan semisal pada sebuah U-Turn di jalan raya maupun tikungan-tikungan dengan sudut yang sempit dan ber kecepatan rendah.

Photobucket

Kembali ke pertanyaan di atas, pada sesi ‘cornering’ - dipandu instruktur Herry Wahyudi- peserta dihadapkan pada pengetahuan baru saat menikung dimana faktor MATA dapat membuat banyak perubahan pada proses bergeraknya kendaraan. Instruktur bergerak berlari di depan kendaraan peserta agar mata peserta dapat mengikuti arah tikungan. Prosesnya yang awalnya baik justru berbalik sulit karena mendadak instruktur keluar dari lintasan dan membiarkan pak Ono melanjutkan bermain di lintasan. Hasilnya kaki jatuh dan tidak berhasil mengikuti arah tikungan lagi.

Disini dengan mengarahkan mata ke arah tikungan maka secara otomatis mata akan menyampaikan pesan ke lengan untuk membelokkan kendaraan sesuai arah yang dituju. Ini berbeda efeknya saat mata tidak melihat arah tikungan, proses menikung justru tidak mulus dan cenderung lambat.

Kesulitan yang pak Ono alami adalah terbiasanya mata menatap ke jarak yang dekat. Maka ketika mencoba praktek menikung yang muncul adalah sebuah kesulitan karena belum terbiasa. Bersama dua peserta lain -pak Nanang (PT. DHL) dan pak Irfan (PT. Cameron)- sesi ini terus dicoba agar paling tidak peserta dapat menerima obyektif fungsi mata saat bergerak menikung.

Setelah sesi menikung maka sesi dilanjutkan dengan pemahaman konsep rem -masih dipandu oleh instruktur Herry Wahyudi- dimana kerja rem murni untuk memperlambat laju putaran roda dan bukan untuk menghentikan kendaraan. Cara melakukan pengereman pun harus dengan kombinasi depan-belakang secara sempurna agar jarak berhenti kendaraan dapat sempurna dilakukan.

Sesi terakhir adalah sesi Commentary Riding yang dipandu oleh instruktur Egi Nugraha. Peserta diberikan kesempatan untuk bergerak di situasi nyata menyusuri jalan raya seputar Pondok Indah Jakarta Selatan yang terkenal padat.

Banyak komentar menarik muncul dari mulut peserta terlebih selama ini peserta acap kali melakukan kekeliruan dalam proses berkendara. Dengan adanya Public Course ini juga JDDC hadir untuk memberikan masukan-masukan positif soal pemahaman berkendara yang nyaman dan aman yang nantinya dapat menghindari pengendara dari potensi kecelakaan.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Tags:

Do you have anything to say?

Powered by Wordpress and Stripes Theme Entries (RSS) | Comments (RSS)